Sabtu, 17 Desember 2011

Arsitektur Kota

 Teori figure/ground
Teori-teori figure/ground di pahami dari tata kota sebagai hubungan tekstural antara bentuk yang di bangun (building mass) dan ruang terbuka (open space).merupakan analisis yang sangat baik untuk mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola sebuah tata ruang perkotaan, serta mengidentifikasikan masala keteraturan perkotaan

2.1 pola sebuah tempat
Kemampuan untuk menentukan pola-pola dapat membantu menangani masalah mengenai ketepatan (constancy) dan perubahan (change) dalam perancangan kota serta membantu menentukan pedoman-pedoman dasar untuk menentukan sebuah perancangan lingkungan kota yang konkret sesuai tekstur konteksnya.
                     
Fungi pengaturan
Untuk memahami bagaimanakah pikiran manusia bekerja karena pikiran manusia menentukan suatu tatanan dunia dalam pikiran tradisional, dunia alam adalah kacau dan tidak tertib (contoh: daerah hutan). Artinya  manusia cendrung menggolongkan, mengatur dan menghasilkan bagan-bagan kognitif misalnya permukiman-permukiman bangunan-banguanan dan pertamanan.

Sistim pengaturan
Suatu lingkungan binaaan tidak dapat di rasakan tanpa adanya suatu bagan kognitif yang mendasarinya.
Beberapa kehidupan dan kegiatan perkotaan secara arsitektural dapat di klasifikasikan dalam tiga kelompok sebagai berikut:
  • Susunan khawasan bersifat homogen yang jelas, dimana ada hanya satu pola penataan.
  • Susunan kawasan yang bersifat heterogen, dimana dua (atau lebih) pola berbenturan
  • Susunan kawasan yang bersifat menyebar dengan kecenderungan kacau.


2.2  dua pandangan pokok terhadap pola kota
Di Sebuah wilayah yg besar seperti kota, muncul aktifitas-aktifitas sangat luas dan bebeda. Semua aktivitas itu secara umum menggambarkan pilihan yang dibuat berdasarkan seluruh kemungkinan alternative yang ada. Dengan demikian kawasan perkotaan tidak mengesankan sebagai suayu bagian daerah yang luas, melainkan permukiman itu terorganisir menurut prioritas-prioritas tertentu.

Organisasi lingkungan
Dengan kata lain, dapat di ungkapkan suatu prinsip dasar tentang bagaimana lingkungan kota di organisasikan :
Text Box: susunan kota adalah pengorganisasian makna tertentu yang di komunikasikan di dalam ruang melalui bentuk-bentuk tertentu. 
 Kenyataan ini menunjukan bahwa perancangan kota selalu berhadapan dengan organisasi ruang yang bersifat fisik dan social.
Figure yang figurative
Pandangan pertama memperhatikan konfigurasi massa atau blok yang di lihat secara figurative artinya, perhatian di berikan pada figure massanya. Kebanyakan orang, baik perancang maupun masyarakat trtarik pada pandangan tersebut yang dapat di temukan di dalam budaya tradisional, maupun modern. Misalkan pada masa kini kebanyakan kawasan perkotaan seperti real estate atau daerah perdagangan juga mengekspresikan cara pandang tersebut.

Ground yang figurative
Pandangan kedua mengutamakan konfigurasi ground (konfigurasi ruang tau void). Artinya, konfigurasi ruang atau vloid dilihat sebagai suatu bentuk tersendiri. Dan sekali lagi pandangan ini pun dapat di temukan di dalam budaya tradisional maupun budaya teknologi.
Secara teknis pandangan konfigurasi yang bersifat special telah lama di perkenalkan dan pada saat ini secara umum sering di pakai di dalam perancangan perkotaan sejak gerakan postmodernisme. Hal itu muncul karena sebuah kawasan kota atau sebuah gedung sebagai sebuah nucleus (inti) kota sering menghadapi ketidakteraturan ekstern dalam lingkungannya. Secara khusus ada teori desain yang di sebut sistim poche yang seringkali membantu keberhasilan para perancang kota dalam tugas mencari kualitas baru tekstur figure/ground sebuah khawasan kota yang belum jelas sebelumnnya.

Definisi system poche
Sistim poche dalam lingkungan kota di rumuskan sebagai berikut:
Text Box: Poche adalah wadah ruang yang di bentuk oleh solid-solid yang mengartikulasikan konfigurasi void-void eksterior. 

 Sistim desain ini akan sangat membantu arsitek dan perancang kota dalam masalah menemukan nucleus yang stabil sehingga mampu mengatur ketidakteraturan ekstern lingkungan masing-masing

Pemakaian sistim poche dalam perancangan kota
Sistim poche sebenarnya tidak baru, melainkan sudah lama di kenal dan sering di pakai perlu di perhatikan skala perkotaan dimana system ini dapat di pakai secara efektif.
Tekstur figure/ground perkotaan secara fungsional
Pada tahun 1748 giambatista nolli seorang arsitek italia, menemukan suatu cara analitis arsitektural dengan menunjukan secara analitis semua massa dan ruang perkotaan yang bersifat public (dan semipublic) ke dalam suatu gambaran figure/ground secara khusus cara analisisnya  sejak waktu itu di sebut dengan nolli plan dimana semua massa yang bersifat public atau semipublic tidak lagi di ekspresikan sebagai massa (dengan warna hitam) melainkan di golongkan bersama tkstur ruang dengan warna putih.

2.2 solid dan void sebagai elemen perkotaan
Seperti yang telah di katakan, system hubungan di dalam arsitektur figure/ground mengenal dua kelompok elemen, yaitu solid dan void. Selanjutnya akan di kemukakan elemen-elemen kedua kelompok tersebut. Ada tiga elemen dasar yang besifat solid serta empat elemen dasar yang bersifat solid serta empat elemen dasar yang bersifat void.
Ke tiga elemen itu merupakan elemen konkrit karena dibangun secara fisik (dengan bahan massa). Paling mudah untuk di perhatikan adalah elemen blok tunggal karena bersifat individual. Akan tetapi elemen ini juga dapat di lihat sebagai bagian dari satu unit yang lebih besar dimana elemen tersebut sering memiliki sifat yang penting (misalnya sebagai penentu sudut, hirarki atau penyambung).

3 elemen solid diantaranya
  • Blok tunggal (single block)
  • Blok yang mendefinisi sisi (edge defining block)
  • Blok medan (field block)
4 elemen void diantaranya
  • System tertutup yang linear (linear closed system)
  • System tertutup yang sentral (central closed system)
  • System terbuka yang sentral (central open system)
  • System terbuka yang linear (linear open system) 
2.4 void dan solid sebagai unit perkotaan
    Sering dipakai istilah untuk unit perkotaan adalah :

    Text Box: sebuah unit adalah jumlah beberapa massa beserta ruang tertentu yang mempunyai identitas sebagai suatu kelompok.




    Di dalam kota keberadaan unit sangatlah penting, karena unit-unit berfungsi sebagai kelompok banguanan bersama ruang terbuaka yang menegaskan kesatuan massa di kota secara tekstural. Melelui kebersamaan tersebut, penataan kawasan akan tercapai lebih baik kalau massa dan ruang di hubungkan dan di satukan sebagai suatu kelompok.
    Pola dan dimensi unit-unit perkotaan
    Oleh sebab itu, elemen-elemen solid/void tidak boleh di lihat terpisah satu dengan yang lain, karena secara bersama-sama membentuk unit-unit perkotaan yang sering menunjukan sebuah tekstur perkotaan di dalam dimensi yang lebih besar.
    Artiny, setiap kawasan dapat di mengeri bagiannya melalui salah satu cara tekstur tersebut. Namun, batas antara tekstur dan unit-unit perkotaan tidak selalu jelas di dalam realitas, karena kawasan kota jarang bersifat homogen, melainkan memiliki keadaan yang heterogen bahkan sering bersifat menyebar sehingga agak sulit.

    Pola dan dimensi unit-unit perkotaan
    Oleh karena itu elemen-elemen void/solid tidak boleh di lihatterpisah satu sama yang lain, karena secara bersama-sama membentuk unit-unit perkotaan yang sering menunjukan sebuah tekstur perkotaan di dalam dimensi yang lebih besar. Di bedakan enam pola kawasan kota secara tekstural, yaitu grid, angular, kurvilinear, radial, kosentris, aksial,serta organis. Namun batas antara tekstur dan unit-unit perkotaan tidak selalu jelas dalam realita karena kawasan kota jarang bersifat homogen, melainkan heterogen, bahkan menyebar. Sehingga agak sulit. Untuk mengatasi hal itu, dalam analisi perlu di perhatikan 3 variabel terstruktur yakni tingkat keteraturan, tingkat keseimbangan,tingkat kepadatan.antara masa dan ruang sehingga pengelompokan dapat di capai.

    Kesimpulan
    Pembentukan solid/void dengan elemen-elemennya sangat berbeda, bahkan juga pola hubungan di antara keduannya. Secara arsitektural bentuk-bentuk masa dan ruang serta pola kombinasinya secara tekstural dapat di analisa secara tepat dengan memperhatikan teori yang di kemukakan di dalam bab ini  dambar di bawah memberikan suatu kesimpulan tentang pemakaian bentuk segi empat dan pola grid saja 
    3. Teori lingkage
    3.1 Hubungan sebuah tempat dengan yang lain
    Pembahasan sebelumnya lebih banyak diberikan pada pola kawasan perkotaan serta bagaimanakah keteraturan massa dan ruangnya secara tekstural. Namun demikian, perlu dilihat keterbatasan kelompok teori figure/ground karena, di samping memiliki kelebihan, pendekatannya sering mengarah ke gagasan-gagasan ruang perkotaan yang bersifat dua dimensi saja dan perhatiannya terhadap ruang perkotaan terlalu statis. Artinya, dinamika hubungan secara arsitektural berbagai kawasan kota belum diperhatikan dengan baik.
    Oleh sebab itulah, perlu diperhatikan suatu kelompok teori perkotaan lain yang membahas hubungan sebuah tempat dengan yang lain dari berbagai aspek sebagai suatu generator perkotaan. Kelompok teori itu disebut dengan istilah lingkage (penghubung), yang memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerakan-gerakan (dinamika) sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric). Sebuah lingkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Di dalam bab ini lingkage perkotaan akan dikemukakan dalam tiga pendekatan yaitu:
    -          Lingkage yang visual
    -          Lingkage yang struktural
    -          Lingkage bentuk yang  kolektif.
    Kota adalah sesuatu yang kompleks dan rumit, maka perkembangan kota sering mempunyai kecenderungan membuat orang merasa tersesat dalam gerakan di daerah kota yang belum mereka kenal. Hal itu sering terjadi di daerah yang tidak mempunyai lingkage. Setiap kota memiliki banyak fragmen kota, yaitu kawasan-kawasan kota yang berfungsi sebagai beberapa bagian tersendiri dalam kota.
    Walaupun identitas serta bentuk massa dan ruang fragmen-fragmen itu bisa tampak sangat jelas, orang masih sering bingung saat bergerak di dalam suatu daerah yang belum cukup mereka kenal. Kota kota seperti New York atau Mexico City dan juga kota-kota di Asia telah menggambarkan masalah tersebut. Hal ini menunjukan bahwa jumlah kuantitas dan kualitas masing-masing bagian (fragmen) di kota tersebut belum memenuhi kemampuan untuk menjelaskan sebagai bagian dalam keseluruhan kota. Oleh karena itu, diperlukan elemen-elemen penghubung, yaitu elemen-elemen lingkage dari satu kawasan ke kawasan lain yang membantu orang untuk mengerti fragmen-fragmen kota sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.

     3.2 Lingkage visual
    Istilah ‘lingkage visual’ dapat dirumuskan sebagai:
    Dalam lingkage yang visual dua atau lebih banyak fragmen kota dihubungkan menjadi satu kesatuan secara visual.
    Edmund Bacon membahas tema ini secara mendalam. Bukunya sudah menjadi standar di dalam teori perkotaan yang secara khusus memperhatikan lingkage yang visual. Teorinya menjadi terkenal pada saat ia mengemukakan kasus-kasus yang menunjukkan dampak elemen-elemen visual di dalam sejarah kota. Artinya, elemen-elemen tersebut sudah lama dikenal dan dapat dipakai baik dalam skala makro besar maupun makro kecil, yaitu dalam kota secara keseluruhan maupun dalam kawasan kota, karena sebuah lingkage yang visual mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Pada dasarnya, ada dua pokok perbedaan linkage visual, yaitu:
    -          Yang menghubungkan dua daerah secara netral;
    -          Yang menghubungkan dua daerah dengan mengutamakan satu daerah
    Kebanyakan penghubung bersifat kaitan saja dan dapat ditemukan di banyak daerah di kota-kota seluruh dunia, misalnya kota-kota di Italia atau di kota-kota Amsterdam (Belanda), Washington (Amerika Serikat), Jaipur (Cina), Yogyakarta (Indonesia), dan banyak kota lain.
    Hubungan yang bersifat sebagai fokus lebih sedikit, karena memusatkan sebuah kawasan tertentu. Walaupun demikian, cara keterkaitan tersebut juga ada di beberapa daerah di kota-kota, khususnya di dalam pusatnya. Contoh yang baik ada di Versailles (Prancis), atau beberapa daerah pusat di Roma (Italia), atau daerah Arc de Triumph di Paris (Prancis), serta daerah Monas Jakarta (Indonesia). Daerah ‘fokus’ tersebut sering memiliki juga fungsi dan arti khusus di dalam kotanya karena bersifat lebih dominan dan menonjol daripada lingkungannya.
    Lima elemen lingkage visual
    Selanjutnya akan diperkenalkan lima elemen lingkage visual yang menghasilkan hubungan secara visual, yakni garis, koridor, sisi, sumbu, dan irama. Setiap elemen memiliki ciri khas atau suasana tertentu yang akan digambarkan satu per satu. Bahan-bahan dan bentuk-bentuk yang dipakai dalam sistem penghubungnya dapat berbeda. Namun, perlu ditekankan bahwa dengan merancang lanskap (yang sering hanya dianggap sebagai dekorasi perkotaan), akan sangat efektif bila menghubungkan fragmen dan bagian kota dengan cara lingkage visual.
    Elemen garis menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa. Untuk massa tersebut bisa dipakai sebuah deretan bangunan ataupun sebuah deretan pohon yang memiliki rupa assif. Elemen koridor yang dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) membentuk sebuah ruang. Elemen sis sama dengan elemen garis, menghubungkan dua kawasan dengan satu massa. Walaupun demikian, perbedaanya dibuat secara tidak langsung, sehingga tidak perlu dirupakan dengan sebuah garis tidak langsung, sehingga tidak perlu dirupakan dengan sebuah garis yang massanya agak tipis, bahkan hanya merupakan sebuah wajah yang massanya kurang penting. Elemen tersebut bersifat massif di belakan tampilannya, sedangkan di depan bersifat spasial. Elemen sumbu mirip dengan elemen koridor yang bersifat spasial. Namun, perbedaan ada pada dua daerah yang dihubungkan oleh elemen tersebut, yang sering mengutamakan salah satu daerah tersebut. Elemen irama, menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang. Elemen tersebut jarang diperhatikan dengan baik, walaupun juga memiliki sifat yang menarik dalam menghubungkan dua tempat secara visual.
    Elemen-elemen tersebut akan digambarkan dengan berbagai contoh yang menegaskan sifat elemen masing-masing. Perlu ditegaskan di sini bahwa cara pemakaian lanskap di dalam kota akan sangat mendukung dan memperjelas sistem hubungan yang ada di dalam kota. Sayangnya, potensi penanaman pohon-pohon jarang dipakai sesuai kebutuhan lingkungan, baik secara visual maupun fungsiaonal (sudah deketahui bahwa pohon-pohon besar adalah ‘paru-paru kota’ dan mengurangi kepanasan dan udara kotor di dalam kota!). Pohon-pohon hanya dianggap sebagai penghias kawasan kota saja. Sudah saatnya bahwa pendekatan terhadap lanskap – dan secara khusus mengenai pohon-pohon – diganti dengan suatu pendekatan yang lebih berarti di dalam kota, lebih-lebih di dalam kota tropis.
    3.3 Lingkage struktural  
    Sebuah kota memiliki banyak kawasan. Beberapa kawasan mempunyai bentuk dan ciri khas yang mirip, tapi ada juga kawasan yang sangat berbeda. Sering pula terjadi perbedaan antara kawasan yang letaknya saling berdekatan sehingga terlihat agak terpusan dan berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena kurangnya bentuk jaringan. Dalam kota sering terlihat tidak adanya hubungan antara satu daerah dan yang lain. Permasalahan tersebut telah dicoba untuk diatas dengan pendekatan lingkage yang visual. Tetapi solusi visual tersebut sering kurang tepat, sehingga perlu ditambahkan bahwa masalah kurangnya bentuk jaringan kawasan perkotaan juga penting dibahas secara struktural. Di dalam realitasnya, kota tidak hanya mementingkan masalah yang bersifat visual saja, tetapi juga hubungan strukturalnya, yang jarang sekali diperhatikan dengan baik dalam perancangan perkotaan. Colin Rowe sebagai tokoh perancang kota secara struktural melihat masalah tersebut sebagai ‘suatu krisis objek-objek perkotaan dengan kondisi struktrur yang sangat disayangkan’. Ia menggambarkan bahwa kawasan-kawasan yang tidak terhubungkan secara struktural, atau terhubungkan tapi secara kurang baik, akan menimbulkan suatu kualitas kota yang diragukan.


    Lingkage struktural dengan sistem kolase
    Lalu bagaimana perancang kota dapat mengatasi secara arsitektural masalah perbedaan kawasan-kawasan yang nyata ini? Colin Rowe memakai sebuah sistem perancanaan yang mampu mengatasi masalah tersebut dengan menyatukan kawasan-kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural yang lebih dikenal sebagai sistem kolase. Istilah ‘kolase’ (dari bahasa inggris; collage) biasanya dipakai di bidang seni lukis yang bersifat tekstural saja, di mana sebuah gambar ditempel dengan beberapa bahan tekstur (yang sering berbeda-beda) menjadi satu kesatuan di dalam tatanannya. Pada tingkat kota, Rowe mengamati bahwa sistem kolase ini juga dapat dipakai secara efektif sebagai berikut:
    Dalam lingkage yang struktural dua atau lebih bentuk struktur kota digabungkan menjadi satu kesatuan dalam tatanannya.
    Sama seperti lingkage yang visual, dalam lingkage yang struktural pada dasarnya dapat diamati dua perbedaan pokok sebagai berikut:
    -          Menggabungkan dua darah secara netral;
    -          Menghubungkan dua darah dengan mengutamakan satu daerah.
    Pemakaian kedua cara terseebut juga tergantung pada fungsi kawasan di dalam konteks masing-masing. Tidak setiap kawasan memiliki arti struktural yang sama di dalam kota, sehingga cara hubungannya secara hierarkis juga dapat berbeda (menyamakan dua kawasan atau mengutamakan salah satunya).

    Fungsi lingkage struktural di dalam kota
    Dalam lingkage struktural yang baik, pola ruang perkotaan dan bangunannya sering berfungsi sebagai sebuah stabilisator dan koordinator di dalam lingkungannya, karena setiap kolase (atau dengan kata lain, penghubung fragmen-fragmen) perlu diberikan stabilitas tertentu dan koordinasi tertentu dalam strukturnya. Tanpa ada daerah-daerah yang polanya tidak dikoordinasikan serta distabilisasikan tata lingkungannya, maka cenderung akan muncul pola tata kota yang kesannya agak kacau. Hal itu dapat diatasi dengan memprioritaskan sebuah daerah yang menjelaskan lingkungannya dengan suat struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yang memberikan susunan tertentu di dalam prioritas penataan kawasan.
    Elemen-elemen lingkage struktural
    Ada tiga elemen lingkage struktural yang mencapai hubungan secara arsitektural, yaitu: tambahan, sambungan, serta tembusan. Setiap elemen tersebut memiliki ciri khas dan tujuan tertentu di dalam sistem hubungan dengan berbagai kawasan perkotaan. Karena tiga elemen struktural ini bersifat agak abstrak, sering kali elemen-elemen lingkage yang struktural kurang diperhatikan di dalam perancangan perkotaan.
    Secara struktural elemen tambahan melanjutkan pola pembangunan yang sudah dan sebelumnya. Bentuk-bentuk massa dan ruang yang ditambah dapat berbeda, namun pola kawasannya tetap dimengarti sebagai bagian atau tambahan pola yang sudah ada di sekitarnya.
    Berbeda halnya dengan elemen sambungan karena elemen ini memperkenalkan pola baru pada lingkungan kawasannya. Dengan pola baru ini, diusahakan menyambung dua atau lebih banyak pola di sekitarnya, supaya keseluruhannya dapat dimengerti sebagai satu kelompok yang baru memiliki kebersamaan melalui sambungan itu. Elemen tersebut sering diberi fungsi khusus di dalam lingkungan kota, karena rupanya agak istimewa.
    Lain pula halnya dengan ciri khas elemen tembusan karena elemen ketiga ini tidak memperkenalkan pola baru yang belum ada. Elemen tembusan sedikit mirip dengan elemen tambahan, namun lebih rumit polanya karena di dalam elemen tembusan terdapat dua tau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus di dalam satu kawasan. Dengan cara demikian, sebuah kawasan yang memakai elemen tembusan tidak akan memiliki keunikan dari dirnya sendiri, melainkan hanya ‘campuran’ dari lingkungannya.
    Colin Rowe mengemukakan beberapa kasus di dalam sejarah kota, misalnya di kota Roma, Italia. Sistem lingkage struktural sudah lama dipaka dalam suatu kualitas menghubungkan berbagai kawasan. Oleh karena itu, banyak tokoh perancang tertarik menerapkan teori Colin Rowe (mengenai perhatian kota secara struktural). Misalnya Roger Trancik memakai linkage struktural untuk sebuah studi pengembangan kawasan kota Goteborg di Sweida. Dalam pernacangan tersebut sistem lingkage struktural dipakai dalam menggunakan elemennya secara baik.
    3.4 Lingkage sebagai bentuk kolektif
    Seperti telah dikemukakan terdahulu, kelompok teori lingkage memperhatikan susunan dan hubungan bagian-bagian kota satu dengan yang lainnya. Roger Trancik membandingkan dinamika itu seperti suatu komposisi musik dengan suatu sistem datum. Dan Francis Ching memakai istilah yang sama dengan definisi berikut ini:
    Suatu datum diartikan sebagai suatu garis, bidang atau ruang acuan untuk menghubungkan unsur-unsur lain di dalam suatu komposisi. Datu mengorganisir suatu pola acak unsur-unsru melalui ketertaturan kontinuitas dan kehadirannya yang konstan. Sebagai contoh, garis-garis lagu berfungsi sebagai suatu datum yang memberi dasar visual untuk membaca not dan irama nada-nada yang ada secara relatif.
    Garis-garis lagu adalah suatu datum konstan yang menyiapkan suatu bingkai ciptaan pada seorang komponis. Itu sama halnya dengan lingkungan perkotaan, karena suatu datum (atau kesamaan) yang bersifat spasial akan berfungsi sebagai landasan tertentu. Contoh datum yang bersifat spasial adalah sebuah garis lahan-lahan, suatu aliran gerakan yang diarahkan, sebuah sumbu yang bersifat organisasional atau sebuah sisi kelompok bangunan. Sebetulnya bentuk dan pola datum perkotaan sudah banya k sekali. Ching mengamati dengan baik, bahwa sebagai pengatur yang efektif, sebuah garis datum harus memiliki kontinuitas visual untuk menembus atau melintasi semua unsur yang diorganisir sebagai figure yang dapat merangkum atau mengumpulkan semua unsur-unsur yang terorganisir di dalam lingkungannya. Jika demikian, garis datum yang spasial itu menunjukan suatu sistem penghubung yang perlu dipertimbangkan seandainya ada suatu tambahan atau perubahan massa atau ruang di dalam lingkungannya.
    Walaupun demikian, di dalam realitas kota dan perancangannya, faktor penting itu jarang diperhatikan degnan baik. Sering dilupakan bahwa sebuah kota memiliki arti luas daripada jumlah gedung dan prasarananya saja. Sebuah kota hanya akan berarti sebagai sejumlah unit-unit. Kenyataan tersebut telah dibahas dengan memperhatikan unit-unit secara visual dan struktural. Meskipun demikian, masih perlu ditambah satu cara lagi yang memperhatikan secara langsung keadaan rupa bentuk yang bersifat kolektif di dalam kawasan kota.
    Implikasi keadaan tersebut sering kurang disadari. Masalah itu muncul karena secara nyata di kota juga ada kawasan yang berbentuk kolektif, tetapi bentuk tersebut sering kurang jelas dalam batasan maupun ciri khasnya. Kenyataan ini menunjukkan perlu adanya perhatian secara khusus terhadap analisis mengenai keberadaan bentuk-bentuk kolektif di dalam kota, karena dengan hal tersebut akan dicapai landasan perancangan untuk memperkuat kualitas kawasan melalui pengelompokan berbagai objek sebagai bagian dari satu bentuk kolektif. Perhatian perlu diberikan secara khusus pada ciri khas, organisasi, dan hubungan bentuknya yang bersifat kolektif, baik di suatu derah maupun dengan daerah yang lain, karena sebuah kota memiliki banyak wilayah yang mempunyai arti terhadap hubungan dari dalam maupun luar, yaitu dari diri sendiri maupun dari lingkungannya. Oleh sebab itu, kawasan-kawasan perkotaan yang mempunyai sifat bentuk kolektif merupakan karakterisktik perkotaan yang penting. Fumihiko Maki menganggap kriteria linkage tersebut sebagai karakteristik yang sangat penting di dalam lingkungan perkotaan:
    Penghubung (lingkage) adalah hakikat utama di dalam kota. Penghubung adalah tindakan yang menyatukan semua lapisan aktivitas serta hasilnya yang memiliki rupa secara fisik di dalam kota ... Perancangan kota memperhatikan pertanyaan yang membuat hubungan secara luas antara objek yang dipisahkan. Sebagai akibatnya, penghubungan memperhatikan upaya memperjelas sebuah keberadaan yang luas sekali dengan mengartikulasi bagiannya.
    Perbedaan dan hubungan terhadap lingkungan
    Supaya sebuah bentuk kolektif dapat dilihat, maka syarat yang diperlukan adalah bagaimana fungsi arsitektural dari bentuk kolektif tersebut. Ada dua syarat, yaitu bentuk kolektif yang berbeda dengan lingkungannya dan bentuk kolektif yang berhubungan dengan lingkungannya.
    Bentuk kolektif yang berbeda dengan lingkungannya
    Sebuah bentuk kolektif tidak dapat dilihat tanpa sedikitnya wujud perbedaan terlihat pada lingkungannya. Hal itu berarti bahwa batasan visual atau struktural diperlukan agar bentuk kolektif jelas dalam keseluruhannya. Batasan visual atau struktural itu bisa elemen alamiah ataupun buatan.
    Bentuk kolektif yang berhubungan dengan lingkungannya
    Sebuah bentuk kolektif tidak dapat dilihat tanpa sedikitnya wujud hubungan tampak pada lingkungannya. Hal itu berarti bahwa suatu hubungan visual atau struktural diperlukan supaya bentuk kolektif felas dalam keseluruhannya. Hubungan visual atau struktural itu boleh menjadi elemen alamiah atau buatan.
    Elemen-elemen sistem bentuk kolektif
    Fumihiko Maki melihat tiga tipe bentuk kolektif, yaitu compositional form, megaform, serta groupform.
    Sebuah compositional form atau ‘bentuk komposisi’ merancang objek-objek seperti komposisi dua dimensi dan individual yang hubungan antara masing-masing agak abstrak. Dalam tipe ini lingkage agak sedikit diasumsikan dan tidak langsuang kelihatan. Tipe ini sering dipakai dalam desain fungsionalisme atau gerakan Modernisme Klasik pada tahun 1930-an sampai sekarang. Namun demikian, penghubung tersebut sering kurang memperhatikan fungsi ruang terbuka di dalam segala aktivitas para pelakunya. Oleh sebab itu, ruang terbuka di dalam pembentukan tersebut sering berkualitas rendah karena tidak terwujud dengan jelas serta tidak dapat dipakai dengan baik secara fungsional.
    Sebuah megaform atau ‘bentuk mega’ menghubungkan struktur-struktur seperti bingkai yang linear atau sebagai grid. Dalam tipe ini, lingkage dicapai melalui hierarki-hierarki yang bersifat open ended (masih terbuka untuk berkembang). Secara alami  megaform dapat dilihat di dalam skala yang bermacam-macam. Suatu contoh yang paling tampak dan umum adalah bentuk dan pola pohon. Banyak eksperimen desain tipe seperti ini dibuat pada tahun 1960-an yang memberikan perhatian secara khusus pada kota yang bersifat megastruktural. Pada masa kini perhatian pada elemen megaform sudah berkurang, namun cara perancangannya masih sering dipakai dalam proyek-proyek besar, khususnya kalau melibatkan banyak prasarana dan sirkulasi di dalam kawasan yang bersifat makro (misalnya lapangan terbang, stasiun, kampus, industri, daerah metropolitan, dan sebagainya). Nama elemen tersebut sudah menjelaskan bahwa sebuah  megaform kurang tepat dalam skala mikro saja (yaitu gedung) karena sifat elemen tersebut cenderung makro.
    Sebuah groupform muncul dari penambahan akumulasi bentuk dan struktur yang biasanya berdiri di samping ruang terbuka publik. Dalam tipe ini lingkage dikembangkan secara organis. Kota kuno dan desa tradisional cenderung mengikuti tipe ini. Tetapi pada saat ini elemen groupform juga sering dipakai dalam perancangan kawasan baru dengan dibuat suatu akumulasi banguan sebagai satu kelompok. Kompleks tersebut akan mengekspresikan suatu persamaan bangunan di dalam kawasannya, yang terwujud melalui pola struktur bangunannya yang saling terikat.
    3.5 Kesimpulan
    Di dalam bab ini dibahas tiga macam cara penghubungan, yaitu linkage visual, linkage struktural, serta linkage bentuk kolektif. Semua pembahasaan tersebut menarik perhatian pada sistem bagaimana kawasan-kawasan kota sebagai sebuah produk arsitektural dihubungkan satu dengan yang lain.
    Penghubung bagian-bagian kota satu dengan yang lain memang kriteria yang penting sehingga kawasan-kawasan kota bisa dipahami sebagai sebuah hierarki yang lebih besar daripada hierarki yang ada di dalamnya saja. Cara penghubungannya secara arsitektural dapat dilakukan sesuai konteksnya, yang masing-masing memiliki kriteria arsitektural tersendiri, yaitu secara visual, struktural, atau melalui bentuk kolektif. Tingkat penhubungan dapat berbeda pula, baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh sebab itu, dibutuhkan suat kepekaan yang baik terhadap lingkungan agar suat intervensi arsitektural di dalamnya dapat meningkatkan kualitas penghubungan dalam lokasi secara keseluruhan. Peningkatan itu akan juga menguntungkan intervensi terebut bagi diri sendirinya. Bab berikut secara khusus akan berfokus pada hal tersebut, karena tanpa pembahasaan sebuat ‘arti’ dari suat produk, maka produk tersebut belum dapat dipahami dengan baik.
    4. Teori place
    4.1 Makna sebuah tempat
    Pada bab ini dibahas makna sebuah kawasan sebagai sebuah tempat perkotaan secara arsitektural. Manusia memerlukan suatu sistem places (tempat-tempat tertentu) yang berarti dan agak stabil untuk mengembangkan kehidupan dan budayanya. Kebutuhan itu timbul karena adanya kesadaran orang terhadap suatu tempat yang lebih luas daripada hanya sekadar masalah fisik saja. Pandangan umum mengenai sistem places dapat sengat berbeda, misalnya antara sistem places perdesaan dan sistem places perkotaan. Namun pada setiap tempat, agar dapat dilihat dan dirasakan, orang memerlukan suatu batasan dengan makna tertentu. Ada dua pengamatan yang menarik dalam hal tersebut:
    Sebuah batas bukan ditentukan karena sifatnya sebagai daerah tempat berhenti, melainkan di mana sebuah tempat memulai kehadirannya.
    Bagian dari keadaan sebuah tempat yang baik adalah perasaan yang kita miliki terhadapnya, yang terwujud dan dilindungi oleh sebuah medan yang spasial yang dimiliki sendiri dengan pembatasannya serta kesanggupannya.
    Kenyataan itu kurang diperhatikan di dalam kota modern. Misalnya, gerakan arsitektur modern yang disebut gaya internasional (international style), dengan puncaknya pada pertengahan abad ke-20, sama sekali tidak memperhatikan aspek tersebut, karena fokus hanya diberikan pada objek-objek secara fungsional saja. Pada masa kini konsep-konsep perkotaan dari gerakan itu terbukti gagal di dalam realitasnya: beberapa tokoh arsitek sudah mengusulkan gagasan-gagasan baru, misalnya para arsitek dari TEAM 10, TAU-Group dari Prancis, Rob dan Leon Krier bersaudara dari Luxemburg, Hermann Herzberger dari Belanda, atau Hans Hollein dari Jerman, dan lain-lainnya. Namun, sampai saat ini pemikiran para perancang secara umum masih sangat dipengaruhi oleh gerakan modernisme yang sudah terbukti gagal tersebut, ditambah lagi dengan gerakan post-modernisme yang sering dipakai sebagai alat ‘dekorasi’ kawasan perkotaan saja.
    Definisi place
    Apa yang dimaksud dengan kata place, dan apa perbedaan antara place dan space? Christian Norberg-Schulz member difinisi umum berikut ini:
    Sebuah place adalah sebuah space yang memiliki suat ciri khas tersendiri.
    Lebih lanjut secara arsitektural Roger Trancik merumuskan secara lebih spesifik:
    Sebua space akan ada kalau dibatasi sebagai sebuah void dan sebua space  menjadi sebuah place kalau mempunyai arti dari lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya.
    Artinya, sebuah place dibentuk sebagai sebuah space jika memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang berarti bagi lingkungannya. Suasan itu tampak dari benda yang konkret (bahan, rupa, tekstur, warna) maupun benda yang abstrak, yaitu asosiasi kultural dan regional yang dilakukan oleh manusia di tempatnya. Aldo van Eyck mengatakan:
    Whatever space  and time  mean,  place  and occasion mean more.
    Aldo van Eyck mengembangkan konsep yang sudah umum, yaiut ‘space-time-conception’ secara lebih mendalam dengan memperhatikan perilaku manusia di dalam konsep tersebut. Ia mengamati bahwa istilah abstrak ‘ruang’ (space) di dalam citra manusia akan lebih konkret jika dapat dialami sebagai ‘tempat’ (place), dan istilah ‘waktu’ (time) menjadi lebih konkret jika dilihat sebagai suatu ‘kejadian’ (occasion). Ia mengamati bahwa selama setengah abad ini kebanyakan arsitek modern menegaskan suatu perbedaan antara ‘di luar’ (outside) dan ‘di dalam’ (inside), yaitu antara interior dan eksterior bangunan. Namun menurut Van Eyck, tugas para arsitek sebtulnya adalah selallu menyiapkan bagi manusia sebua keadaan yang bersifat ‘di dalam’ (inside). Hal ini tersebut juga berlaku untuk ‘di luar’ (outside), yaitu di antara bangunan, karena selama orang hidup dia selalu berada di dalam ruang, baik di dalam maupun di luar gedung. Arsitektur dan urbanisme mengandung usaha penciptaan sebuah interior untuk di dalam (inside) maupun di luar (outside). Ruang yang berada di luar bangunan lebih baik diperhatikan sebagai sebuah bagian yang penting bagi manusia yang hidup di dalamnya.
    P.H. Chombart de Lauwe sebagai ahlli sosiologi membahas tema tersebut secara mendalam. Ahli arsitektur-antropologi Amos Rapoport mengembangkan bidan EBR (Environmental Behavior Relations) yang memperhatikan secara khusus hubungan antara lingkungan yang dibangun (built-environmental) dan perilaku manusia (human behavior).
    Dalam rumusan dan penjelasan ini, penting kiranya untuk menganalisis dan merancang kawasan perkotaan dari segi konteks, citra, dan artistiknya secara mendalam, karena jelaslah jenis dan rupa places yang memungkinkan occasions di dalamnya akan mempengaruhi masyarakat di tempatnya. Itulah bahan yang sebetulnya perlu diperhatikan di dalam kelompok teori perkotaan yang ketiga ini. Oleh karena akan mengungkap suatu pandangan atau pengalaman terhadap ruang kota sebagai tanda kehidupan perkotaan melalui pembentukan dan pemakaian place di dalam lingkungan tempatnya, baik secara konkret maupun abstrak.
    4.2 Konteks kota
    Sebuah bangunan tidak perlu menjiplak berbagai gaya lingkunganya supaya dapat disebut kontekstual dan mendukung kesatuan lingkungan. Di dalam pembangunan gedung-gedung baru, secara kontekstual perlu diterapkan prinsip-prinsip tertentu yang berasal dari lingkungannya. Ada pengamatan yang menarik dalam hal tersebut:
    Di dalam perancangan kontekstual yang benar perlu lebih banyak diperhatikan sejarah kawasan, kebutuhan masyarakat, tradisi ketukangan dan pemakaian bahan, serta realitas politik dan ekonomi masyarakatnya, daripada hanya sekadar analisis-analisis yang dangkal.
    Perancangan tidaklah lebih dari proses pencarian apa yang diinginkan seseorang atau suatu objek: bentukan yang dibuat oleh mereka sendiri merupakan bentuk dari hasil proses pencarian itu sendiri. Tidak diperlukan suatu penemuan baru oleh perancang; yang dibutuhkan ialah mendengarkan baik-baik saja.
    Dengan kata lain, suatu perancangan yang kontekstual merupakan hasil dar suatu proses mengalihkan arti lingkungan ke dalam sebuah objek baru
    Konteks dan kontras
    Walaupun demikian, suatu perancangan secar kontekstual tidak boleh mengabaikan kontras, karena konras dibutuhkan untuk menciptakan sebuah lingkungan yang menarik dan kreatif. Diamati dengan baik bahwa prinsip ‘kontras’ hanya bersifat sebagai ‘bumbu makanan’ yang perlu dipakai dengan hati-hati, supaya ‘makanan’ tetap sedap. Dalam kawasan perkotaan, kontras adalah salah satu alat perancangan yang bagus, dan akan meningkatkan kualitas kawasan jika dipaik dengan cara yang baik. Namun sebaliknya, tanpa perhatian yang sungguh-sungguh, akan terjadi pemusnahan yang mengubah sebuah kawasan ke arah kekacauan. Secara nyata pada masa kini di dalam pembangunan perkotaan, kontras terlalu sering dipakai dan sifatnya sering disalahgunakan. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan suatu pemahaman yang baik menganai kontras dan sifat-sifat dasarnya serta keterbatasannya, agar suatu kontras menjadi seimbang dengan konteksnya. Ada klasifikasi enam tingkat perbedaan antara dua bentuk, yaitu bentuk-bentuk yang sama serupa, mirip serupa, variasi, diferensiasi, kontras, serta kontras radikal.
    Makin meningkatnya perbedaan antara dua bentuk makin menghilangkan kesamaannya. Dinamika tersebut perlu diperhatikan secara khusus di dalam kawasan perkotaan.
    Dua elemen perkotaan yang kontekstual
    Selanjutnya secara konkret perlu diperhatikan kedua elemen pokok perkotaan yang mendefinisikan secara mendasar sebuah konteks tertentu, yaitu elemen place yang statis, serta elemen place  yang dinamis.
    Secara arsitektural sebuah tempat yang bersifat statis yang berbeda dengan konteks yang bersifat dinamis. Perbedaan dasarnya secara spasial terletak pada arah dan gerakan di dalam lingkungannya. Dalam berbagai teori perkotaan sedara kontekstual, kedua elemen ini dikenal dengan bermacam-macam nama yang agak membingungkan. Misalnya, di dalam bahasa Inggris istilah place (sam dengan istilah Platz dalam bahasa Jerman) dipaka secara umum, tetapi juga dipakai secara khusus untukk suatu tempat yang cenderung bersifat statis, yang kadang-kadang juga disebut sebaga square (skala makro) atau court (skala mikro). Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa istilah yang masing-masing memiliki makna tertentu. Misalnya, istilah ‘alun-alun’ dipakai untuk sebuah tempat khusus di pusat kota saja. Istilah ‘lapangan’ biasanya dipakai untuk sebuah tempat yang sudah memiliki fungsi tertentu (untuk olah raga dan lain-lain), serta istilah ‘halaman’ cenderung bersifat mikro saja. Istilah ‘ruang kosong’ yang kebanyakan bersifat statis juga dipakai, namun istilah tersebut memiliki bermacam arti, sama dengan istilah ‘jalan’ yang sifatnya dinamis. Oleh karena itu, di dalam buku ini kedua elemen kontekstual dibedakan dengan pemakaian kedua istilah dasar, yaitu ruang statis serta ruang dinamis. Selanjutnya secara teknis hanya dua istilah tersebut yang akan dipakai.
    Di sini tidak ada maksud untuk membahas kawasan perkotaan yang kontekstual dari sudut pandang berbagai bidang ilmu (antropologi dan sebagainya) ataupun dari sudut pandang yang subjektif (misalnya gaya). Perhatian hanya akan diberikan secara dasar pada pembicaraan formulasi bentuk dan ruang yang berfokus secara arsitektural pada suatu konteks secara objektif dan umum.
    Pada dasarnya, pembentukan dua elemen pokok ini dapat dilihat dalam dua karakteristik dasar yang bersifat arsitektural, yaitu rupa dan tampak. Dua tokoh teori perancangan kota, yaitu Rob Krier dan Jim McCluskey, mendefinisikan ruang statis/dinamis dari empat aspek, yaitu dari tipologi, skala, hubungan, dan identitas. Keempat aspek ini perlu diperhatikan secara mendalam karena hanya melalui aspek-aspek pokok inilah kedua karakteristik ‘rupa’ dan ‘tampak’ dapat dibahas secara objektif. Masalah tersebut sering dilupakan, bahkan dicampuradukkan dengan masalah geometri dan stetika perancangan perkotaan yang sering berpandangan subjektif.
    Tipologi
    Pada dasarnya, tipologi bentuk sebuah tempat tidak selalu sudah jelas, karena bisa jadi ada campuran antara sifat yang statis dan dinamis. Demikian pula batas tidak selalu jelas. Selanjutnya, tipologi kedua elemen tersebut akan dibahas satu demi satu.
    Tipologi ruang statis. Sejak awal abad ini, karakter ruang terbuka yang bersifat statis di dalam kota hanya dianggap sebagai tempat estetik perkotaan, khususnya di Eropa. Oleh sebab itu, karakter tempat tersebut hanya digolongkan pada geometrinya saja tanpa memperhatikan fungsinya di dalam kota. Misalnya, teori perancangan kota yang terkenal dari Rob Krier berusaha menggolongkan semua tempat tersebut sesuai bentuknya dengan pemakaian elemen geometri dasar saja, yaitu lingkaran, segitiga, bujur sangkar, serta kombinasinya. Banyak pengkritik, khususnya yang berhubungan dengan ilmu sosial, mempermasalahkan makna teori tersebut sebagai sesuatu yang lihiriah saja. Walaupun anggapan tersebut betul, jelas bahwa ruang perkotaan yang bersifat statis juga tidak bisa diklarsifikasikan dari sudut pandang bidang sosial saja melainkan juga memiliki arti yang diekspresikan melalui bentuknya.
    Hans J. Aminde menggabungkan dengan baik kedua pendekatan tersebut secara itegral dengan memperhatikan karakter ruang perkotaan yang bersifat statis beserta fungsi ruang tersebut, yang masing-masing bisa dihubungkan sepuluh karakter ruang tersebut, yang masing-masing bisa dihubungkan dengan bermacam fungsi sesuai konteksnya, misalnya sebagai ruang terbuka untuk perdagangan, budaya, monumen, permukiman, perdagangan, lalu lintas, parkir, dan lain-lain.
    Kedua hal tersebut tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lain. Fungsi/aktifitas sebuah tempat sama pentingnya dengan bentuknya, dan demikian pula sebaliknya. Spiro Kostof membahas hal tersebut secara mendalam di dalam konteks Eropa. C. Cooper bersama C. Francis memberikan kontribusi menarik dalam konteks Amerika. Sayangnya, di dalam konteks Asia belum tersedia banyak literatur mengenai hal tersebut.
    Tipologi Ruang Dinamis
    sama dengan ruang statis, ruang dinamis (yang sering disebut sebagai street atau jalan) memiliki tipologi tersendiri. Sama dengan ruang st          atis, ruang dinamis juga memiliki kaitan tersendiri antara bentuk dan fungsinya, sehingga Spiro Kostof dengan tepat mengantakan bahwa ruang dinamis yang disebut ‘jalan’ sekaligus adalah elemen   dan institusi perkotaan. Bentuknya bisa juga sangat berbeda sesuai lokasi dan fungsinya di dalam kota . oleh sebab itu,  sering diberikan padanya nama yang sesuai dengan keadaanya
    Selanjutnya dikemukakan kriteria kedua, yaitu skala, karena perlu juga ditanyakan  mengenai sebuah tempat: Seberapa besar ukurannya? Bagaimana perbandingan secara spasial antara ketinggian elemen dan lebarnya? Bagaimana hubungan secara  spasial antara objek-objek di dalamnya
    Walaupun kesan sebuah tempat tergantung pada banyak factor, bisa dikatakan secara umum bahwa skala, yaitu hubungan antara lebar./panjang dan tinggi ruang dari sebuah tempat, memberikan sebuah kesan yang bersifat agak umum pada orang yang bergerak didalamnya.
    Morfologi
    Kemudian kriteria yang ketiga, morfolgi sebuah tempat, juga perlu dianalisis. Ini berarti bahwa sebuah elemen place tertentu tidak hanya boleh diperhatikan dari tempatnya saja, melainkan juga dari segi arti hubungan antara tempat dan tempat yang lain. Oleh sebab itu yang perlu ditanyakan adalah: Bagaimanakah konteks elemen tersebut? Bagaimanakah kombinasi antara elemen-elemennya? Bagaimanakah pencampuran elemnnya? Aspek-aspek itu sangat penting bagi suasana didalam suatu konteks tempat tertentu.
    Identitas
    Akhirnya, kriteria yang keempat, yakni identitas suatu tempat , perlu juga diperhatikan. Apakah cirri khas tempat tersebut? Apakah yang  menyebabkan adanya suatu perasaan terhadap suatu tempat? Dengan cara manakah? Bahan apakah yang dipakai? Dengan pola manakah? Dengan warna manakah? Inilah beberapa pertanayaan yang penting terhadap gambaran sebagai suatu identitas tertentu dalam konteksnya.  Misalnya kota kuno dan kota tradisional tidak hanya sekadar kebetulan terjad, melainkan dicapai melalui hierarki-hierarki tertentu yang beraturan dan berulang-ulang dalam banyak aspek yang mendukung hierarkinya. Walaupun kebanyakan place di kota tradisional mempunyai karakteristik geometris yang berbeda, tetapi identitas place secara keseluruhan masih dapat diamati. Pembentuk place mengikuti suatu regularitas dan repetisi tertentu yang sesuai dengan dengan hierarki supaya jelas identitasnya. Artinya , setiap bangunan disebuah place boleh berbeda, namun perbedaan ini seharusnya mengikuti dan memperkuat identitas place tersebut. Di dalam tugas perancangan kawasan, regularitas dan repetisi yang mengikuti hierarki tertentu adalah factor penting  dalam perancangan sebuah place yang berkualitas tinggi
    Dengan demikian, menjadi jelas betapa pentingnya pula memperhatikan elemen-elemen arsitektural di dalam skala mikro, misalnya rupa bangunan atau bentuk jendela dan elemen-elemen lain serta cara penyusunan didalam tampilan bangunan.
    4.3 Citra Kota
    Teori mengenai citra place sering disebut sebagai milestone suatu teori penting dalam perancangan kota, karena sejak tahun 1960-an teori ‘citra kota’ mengarahkan pandangan perancangan kota kearah yang memperhatikan pikiran terhadap kota dari orang yang hidup di  dalamnya. Teori-teori berikutnya sangat dipengaruhi oleh teori tokoh ini. Teori ini diformulasikan oleh Kevin Lynch, seorang tokoh peneliti kota. Risetnya didasarkan pada citra mental sejumlah penduduk dari kota tersebut. Dalam risetnya, ia menemukan betapa pentingnya citra mental jumlah penduduk dari kota tersebut. Dalam risetnya, ia menemukan betapa pentingnya citra mental itu karena citra yang jelas akan memberikan banyak hal yang sangat penting bagi masyarakatnya. Seperti kemampuan untuk berorientasi dengan mudah  dan cepat disertai perasaan nyaman karena tidak merasa tersesat, identitas yang kuat terhadap suatu tempat, dan keselarasan hubungan dengan tempat-tempat yang lain.

    Definisi dan Prinsip Citra Perkotaan
    Citra kota dapat didefinisikan sebagai berikut
     Sebuah citra kota adalah gambaran mental dari sebuah kota sesuai dengan rata-rata pandangan masyarakatnya
    Kevin Lynch di dalam risetnya meminta para penduduk untuk menjelaskan kepadanya suatu gambaran mental terhadap kota mereka: apa yang diingat? Dimana letaknya dalam kawasan? Bagaimana rupanya? Kemana saya harus pergi dari tempat ini ke tempat yang lain? Lynch mengamati dengan baik bahwa rata-rata berbagai jawaban yang diberikan orang agak sama , dan sering jauh berbeda dengan realitas di dalam kawasan. Misalnya, sketsa-sketsa yang dibuat orang dengan tim peneliti sering jauh berbeda dengan peta kota yang sebenarnya. Ia mengamati bahwa masalah itu terutama tidak disebabkan oleh ketidakbiasaan orang untuk menggambar sketsa, melainkan karena kesulitan mereka untuk mengingat keadaan tempatnya. Lynch mengamati bahwa di beberapa kota dan di berbagai kawasan masalah tersebut lebih sedikit dialami orang. Dalam riset ini telah diteliti dari mana perbedaan itu berasal dan mengapa di berbagai kota orang memiliki gambaran mental yang lebih kuat terhadap kawasannya daripada di tempat lain. Berdasarkan analisis tersebut,Lynch menemukan tiga komponen yang sangat memengaruhi gambaran mental orang terhadap suatu kawasan yaitu:



    ·         Potensi ‘dibacakan’ >identitas
    artinya orang dapat memahammi gambaran perkotaan (identifikasi objek, perbedaan dan lain-lain)
    ·         Potensi ‘disusun’ >struktur
    Artinya orang dapat melihat pola perkotaan (hubungan objek, hubungan subjek)
    ·         Potensi ‘dibayangkan’ >makna
    Artinya orang dapat mengalami ruang perkotaaan  (arti objek, arti subjek – objek)

    Kevin Lynch mengamati bahwa tiga potensi ini lebih mudah ditemukan di beberapa kota (misalnya boston, amerika serikat), sedangkan sulit di kota-kota lainnya (misalnya new jersey, amerika serikat). Jika dibandingkan perbedaan masing-masing peta kota tidak terlalu besar, tetapi nyatanya kebanyakan orang akan memakai kriteria-kriteria lain untuk mengingat identitas, struktur, dan arti kawasan perkotaan daripada peta kota.
    Krieria-kriteria umum yang dipakai oleh masyarakat adalah citra terhadap tempatnya.
     Lima Elemen Citra Kota 
    Elemen-elemen apakah yang dipakai untuk mengungkapan citra perkotaan? Menurut Kevin Lynch, citra kota dapat dibagi dalam lima elemen yaitu path (jalur), edge (tepian), district ( kawasan), node (simpul), serta landmark. Setiap elemen citra tersebut akan di jelaskan satu demi satu, serta akan diilustrasikan salah  satu contoh keadaannya di dalam satu kota di Indonesia yaitu Yogyakarta.
    Oleh karena istilah dari bahasa inggris untuk lima elemen tersebut sudah begitu umum dipakai di dalam konteks bahasa Indonesia, maka istilah-istilah itu akan  dipakai dalam bahan ajar.

    Path(jalur) adalah elemen yang paling penting dalam citra kota . Kevin Lynch menemukan dalam risetnya bahwa jika identitas elemen itu tidak jelas, maka kebanyakan orang-orang  meragukan citra kota selara keseluruhan.  Path merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang  untuk melakukan pergerakan secara umum, yakni jalan, gang, jalan transit dll

    Edge(tepian) adalah elemen linear yang tidak dipakai/dilihatsebagai path. Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linear misalnya pantai, tembok dll. Edge merupakan penghalang walaupun kadang-kadang ada tempat untuk masuk, edge merupakan pengakhiran dari sebuah distric atau batasan suatu distric dengan distric lainnya.

    District(kawasan) merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala 2 dimensii. Sebuah kawasan district memiliki cirri khas yang mirip (bentuk, pola, dan wujudnya) dan khas pula dalam batasanya, dimana orang merasa harus mengakhiri atau memulainya. District dalam kota dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. District mempunyai identitas yang lebih baik jika batasanya dibentuk dengan jelas tampilannya dan dapat dilihat homogen, serta fungsi dan posisinya jelas

    Node(simpul) merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis di mana arah atau aktivitas saling bertemu dan dapat diubah kea rah atau aktivitas lain, misalnya persimpangan, stasiun ataupun lapangan terbang dalam kota secara keseluruhan dalam skala makro besar, pasar , taman , square dan lain-lain
     Landmark(tangeran) merupakan titik refrensi seperti elemen node, tetapi orang  tidak masuk kedalamnya karena bisa dilihat dari  luar letaknya. Landmark adalah elemen eksternal dan merupakan bentuk visual yang  menonjol dari kota,misalnya gunung, gedung tinggi dan sebagainya. Landmark adalah elemen paling penting dari bentuk kota karena membantu orang mengorientasikan diri di dalam kota  dan membantu orang mengenali suatu daerah. Landmark mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik dalam lingkungannya, dan ada sekuens dari berbagai landmark, serta ada perbedaan skala masing-masing

    Formulasi dan Kombinasi elemen citra Kota
    Lima elemen citra tersebut hanya merupakan unsure dasar sebuah citra lingkungan keseluruhan. Pada kenyataanya lima elemen ini dalam kiota tidak dapat terlihat secara terpisah karena keberadaanya satu dengan yang lain. Kelima elemen akan berfungsi  dan berarti secara bersmaaan dalam satu jaringan (interaksi) besar. Sering terjadi bahwa sebuah elemen berasal dari satu elemen citra lain yang berbeda. Semua elemen ini berfungsi bersama dalam lingkunfan yang sama. Dan yang lebih sulit lagi, citra kota dalam keseluruhan dapat berbeda pula tergantung luas daerahnnya, posisi subjek dalam daerah, waktu dan musim.
    Dalam analisi dan perancangan kota kualitas bentuk lima elemen tersebut harus dicari dan ditingkatkan.
    Sepuluh pola karakterisitik diperhatikan dalam proses ini adalah
    Ø  Ketajaman batas elemen
    Ø  Kesederhanaan bentuk elemen secara geometris
    Ø  Kontinuitas elemen
    Ø  Pengaruh yang terbesar anatara elemen
    Ø  Tempat hubungan antar elemen
    Ø  Perbedaan antar elemen
    Ø  Artikulasi antar elemen
    Ø  Orientasi atar elemen
    Ø  Pergerakan antar elemen
    Ø  Nama dan arti elemen
    Ø  Teori “citra perkotaan” yang diformulasikan Kevin Lynch ini memperhatikan skala makro di dalam kota. Namun demikian sesuai pandangan Aldo van Eyck bahwa kota  adalah “rumah yang besar” dan rumah adalah “kota yang kecil” maka prinsip-prinsip yang diungkapkan teori ini juga berlaku sampai ke skala mikro yaitu gedung.
    Seperti yang sudah di tekankan
    Prinsip arsitektur bersifat universal, hanya tingakat skalanya (makro/mikro) yang berbeda
    Kelima elemen akan berfungsi dan berarti secara bersamaan dalam satu interaksi besar. Sering terjadi bahwa sebuah elemen berasal dari satu elemen citra lain yang berbeda. Semua elemen ini berfungsi bersama dalam lingkungan yang yang sama.

    Dalam analisis dan perancangan kota, kualitas bentuk lima elemen tersebut harus dicari dan ditingkatkan.
    Sepuluh pola karakteristik diperhatikan dalam proses ini ialah:
    -          Ketajaman batas elemen
    -          Kesederhanaan bentuk elemen secara geometris
    -          Kontinuitas elemen
    -          Pengaruh yang terbesar antara elemen
    -          Tempat hubungan antara elemen
    -          Perbedaan antara elemen
    -          Artikulasi antara elemen
    -          Orientasi antara elemen
    -          Pergerakan antara elemen;
    -          Nama dan arti elemen

    4.4 Estetika kota
     Kota dan artistiknya dalam arti place  merupakan teori terakhir yang membahas kota sebagai sebuah produk pembuatan. Mungkin agak mengherankan bahwa estetika di dalam perancangan kota baru dibahas di sini.
    Seni perhubungan
    Sebuah kota mempunyai arti lebih luas dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang muncul dari dinamika kebersamaan sebuah sistem hubungan. Dari bidang psikologi persepsi, dikenal fenomena bahwa ‘keseluruhan bagian-bagian memiliki ciri khas lain daripada jumlah bagiannya.
    Gordon Cullen merumuskan seni perhubungan:
    Memakai semua elemen yang cocok untuk menciptakan sebuah lingkungan: bangunan, pohon, sungai, lalu lintas, papan iklan, dan lain-lain.
    Secara arsitektural, rumusan di atas berarti bahwa sebuah gedung tidak akan dilihat sebagai sebuah hasil arsitektur saja, karena terletak di dalam sebuah konteks tertentu.
    Tiga faktor estetika dari sebuah place
    Orientasi
    Ciri khas sebuah kota adalah adanya kawasan-kawasan yang dapat dilihat atau dipahami sebagai seri visual. Cullen memakai istilah ‘optik’ untuk proses tersebut, yang ia bagi dalam 2 yaitu:
    -          Pandangan yang ada (existing view) > Fokus pada satu daerah saja
    -          Pandangan yang timbul (emerging view) >
    -          Fokus pada kaitan antara satu daerah dan yang lain.

    Posisi
    Ini adalah faktor kedua yang dibahas Cullen dengan mengilustrasikan bahwa orang selalu membutuhkan suatu perasaan terhadap posisinya dalam lingkungannya, di mana dia berada, baik secara sadar maupun tidak sadar.
    Isi
    Selain posisi di dalam tempat tertentu, masalah ‘isi’ perlu juga diperhatikan. Cullen membahas hal tersebut secara mendalam. Perasaan mengenai satu tempat juga dipengaruhi oleh apa yang ada.
    Tujuh prinsip sebuah place secara estetis
    Camillo Sitte, seorang tokoh perancangan dari abad ke 19, mengemukakan antara lain beberapa prinsip agar kualitas itu dapat dicapai. Melalui studi banding di berbagai tempat, ia mengemukakan hubungan erat antara kehidupan masyarakat perkotaan dan rupa estetika perkotaan.
    Berikut tujuh prinsip Camillo Sitte:
    -          Keseluruhan sebagai unit
    Places di dalam kota seharusnya dilihat sebagai unit. Artinya, sebuah kawasan seharusnya dilihat dalam batasannya. Tidak semua tempat sama penting di dalam tata kota.
    -          Bentuk unit
    Sebuah  place  sebagai unit seharusnya memiliki bentuk yang sejelas mungkin dalam hal tipologi, geometri, ukuran, dan skalanya, baik dalam dua dimensi maupun tiga dimensi.
    -          Kekosongan pusatnya
    Sebuah place yang berfungsi sebaai ruang statis seharusnya memiliki pusat yang kosong. Artinya, pohon, tugu, monumen dan lain-lain ditempatkan di luar pusat ruang itu.
    -          Penutupan batasnya
    Penutupan batas sebah place perkotaan secara tiga dimensi adalah syarat pokok bagi kualitasnya. Tanda batas tempat, arti sebuah place tidak jelas
    -          Perabotan tempat
    Sebuah place diisi dengan perbotan perkotaan yang mendukung kualitasnya. Artinya, lampu, penghijauan, tempat menempel, papan pengumuman, tiang-tiang, tempat dudu, dan lain-lain tidak merusak tempat melainkan memberi dukungan
    -          Gambaran visual
    Sebuah place seharusnya memiliki suatu citra yang menarik. Artinya, sebuah etmpat yang berkualitas tinggi mempunyai ciri khas yang berasal dari interaksi antara ruang dan bentuk, antara yang buatan dan yang alami, antara yang lama dan baru, antara yang formal dan yang bebas



    4.5 Kesimpulan
    Bab ini telah dibahas teori-teori perancangan kota yang secara khusus memperhatikan makna sebuah tempat dari segi konteks, citra, estetika.
    Dikemukakan bahwa arti sebuah tempat, secara kaitan antara tempat masing-masing, tidak boleh terlepas dari pemahaman manusia yang hidup dan bergerak di dalamnya.
    Tiga kelompok teori pokok sudah dikemukakan, yaitu teori figure/ground, teori-teori linkage, serta teori-teori place.
    Ketiga kelompok teori pokok yang telah dikemukakan pada tiga bab ini baru membahas kota sebagai produk. Seperti sudah ditunjukkan lebih dahulu, dimensi kota yang bersifat sosio-spasial juga tergantung pada aspek-aspek serta kriteria-kriteria yang memperhatikan kota sebagai proses yang bersifat dinamis. Suatu perancangan kota belum dapat dikatakan bersifat terpadu seluas-luasnya jika lingkup serta dapmak kedua hal pokok tersebut belum memperhatikan semua aspek pembuatannya.






    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar